RESUME KELOMPOK 10
EVALUASI
A. Evaluasi Pengujian Dari Sistem
Interaktif Secara Fungsional
Ada
3 tujuan utama dari evaluasi :
1.
Melihat seberapa jauh sistem berfungsi.
Desain
sistem memungkinkan user melakukan tugas yang dibutuhkan dengan lebih mudah.
Ini tidak hanya membuat fungsionalitas yang sesuai ada di sistem, tetapi
membuat mudah dicapai oleh user, user dapat melakukan aksi untuk melaksanakan
tugas.
2.
Melihat efek interface bagi pengguna.
Ini
mencakup pertimbangan aspek dari kemudahan sistem dipelajari, usability dan
perilaku user. Penting juga untuk mengidentifikasikan area desain yang berlebih
dari user, dengan menggunakan sejumlah informasi yang berlebih.
3.
Mengidentifikasi problem khusus yang
terjadi pada sistem
Ketika
menggunakan konteks yang diinginkan menyebabkan hasil yang tidak diinginkan,
atau terjadi kekacauan diantara user. Ini tentunya berhubungan dengan usability
dan fungsionalitas dari desain (bergantung pada sebab masalah). Tujuan ini
merupakan aspek negative dari desain.
B. Pengambilan Evaluasi
Ada 2 jenis utama dari
evaluasi, yaitu yang dilaksanakan pada kondisi laboratorium dan yang
dilaksanakan pada lingkungan kerja atau ‘lapangan’.
1. Pada
Kondisi Percobaan (Laboratory)
Penggunaan
pengujian sistem ini pada ruang percobaan mempunyai beberapa kondisi
diantaranya:
a. Laboratorium
yang bagus biasanya memiliki fasilitas perekaman audio/visual yang baik, cermin
dua arah, komputer beserta perlengkapannya yang mungkin tidak ada pada lokasi
kerja sebenarnya.
- Operator bebas dari gangguan yang menghambat pekerjaan.
- Beberapa situasi hanya dapat dilakukan di lab., seperti sistem yang akan digunakan ditempatkan pada lokasi yang berbahaya atau lokasi yang terpencil, contoh stasiun ruang angkasa.
- Dapat memanipulasi situasi untuk memecahkan masalah dan melihat sedikit penggunaan prosedur atau membandingkan beberapa alternatif perancangan dengan situasi yang sebenarnya.
- Situasi pada laboratorium tidak dapat menggambarkan situasi ruang kerja sebenarnya dan terdapat beberapa orang yang tidak bisa bekerja pada kondisi di laboratorium.
2. Pada Kondisi Lokasi Kerja
Sebenarnya (Lapangan)
Penggunaan
pengujian system ini pada lokasi kerja sebenarnya mempunyai beberapa kondisi
diantaranya :
a. Tingkat
gangguan yang melebihi ambang batas, tingkat-tingkat pergerakan yang besar dan
interupsi yang tetap, seperti panggilan telepon menyebabkan observasi ini sulit
dilakukan.
- Situasi yang lebih “terbuka” antara system dan pengguna, dimana kondisi ini tidak ditemukan pada kondisi di laboratorium
- Observasi pada lokasi kerja sebenarnya lebih baik dilakukan daripada di laboratorium dan gangguan-gangguan yang terjadi pada lokasi ini digunakan sebagai situasi yang mewakili situasi sebenarnya dan digunakan untuk proses penyimpanan dan pengambilan selama tugas.
3. Participatory Design
a. Adalah
suatu pemikiran yang melibatkan keseluruhan alur perancangan dan tidak hanya
proses evaluasi saja.
b. Perancangan
ini dilakukan pada ruang kerja yang melibatkan pengguna yang tidak hanya
digunakan sebagai subyek percobaan tetapi juga sebagai anggota yang aktif dalam
team perancangan.
c. Argumennya
adalah user dianggap ahli dalam konteks dan perancangan hanya dapat efektif
pada konteks tersebut jika para ahli ini memberikan kontribusi yang aktif ke
perancangan.
Tiga karakteristik Teknik Evaluasi :
1. Meningkatkan
lingkungan kerja dan tugas. Ini membuat perancangan dan evaluasi berorientasi
kerja atau konteks dibanding berorientasi system.
2. Mempunyai
sifat kerja sama (kolaborasi), yakni pengguna dilibatkan sebagai anggota team
dan mempunyai kontribusi pada setiap tingkat perancangan.
3. Mempunyai
pendekatan iterative, perancangan adalah suatu subyek untuk evaluasi dan revisi
pada setiap tingkatan.
C. Pendekatan Design Evaluasi
Ada
beberapa pendekatan evaluasi yang dilakukan seperti :
1. Evaluating design
2. Evaluating
implementations
3. Query techniques
4. Physiological
methods
D. Pendekatan Untuk
Mengimplementasikan Evaluasi
1.
Cognitive
Walkthrough
Suatu
usaha yang dilakukan untuk mengenalkan teori psikologi ke dalam bentuk informal
dan subyektif atau dengan kata lain mempunyai tujuan untuk mengevaluasi
perancangan dengan melihat seberapa besar dukungan yang diberikan ke pengguna
untuk mempelajari beberapa tugas yang diberikan. Pendekatan ini dikemukakan
oleh Polson, dkk. Walkthrough dilaksanakan oleh perancang atau seorang ahli
dalam psikologi kognitif. Ahli bekerja melalui perancangan tugas tertentu,
tahap demi tahap, mengidentifikasi masalah yang berpotensi terhadap criteria
psikologi. Kemudian dibandingkan ke proses dimana perancang software akan
bekerja dengan koding pada kondisi yang berbeda (menggunakan set data yang
berbeda atau kondisi yang salah, misalnya) untuk mengevaluasi unjuk kerja
setiap software. Dalam pendekatan ini terdapat beberapa issue yang timbul
seperti :
a. Pengaruh
apa yang timbul setelah tugas ini
diberikan ke pengguna?
b. Proses
cognitive apa yang tersedia?
c. Masalah
pembelajaran apa yang seharusnya timbul?
Analisis
difokuskan pada tujuan user dan pengetahuan. Cognitive walkthrough harus
menunjukkan jika dan bagaimana interface merujuk user untuk membangkitkan
tujuan yang benar dari pelaksanaan tugas yang diinginkan, dan memilih aksi yang
diperlukan untuk memenuhi setiap tujuan. Untuk melakukan Cognitive Walkthrough
harus mempunyai informasi yang dibutuhkan :
1. Deskripsi
dari suatu interface yang dibutuhkan itu sendiri
2. Deskripsi
dari tugas termasuk usaha yang benar untuk melakukannya dan struktur tujuan
untuk mendukungnya
Dengan
Informasi ini maka Evaluator dapat Melakukan langkah dari walkthrough :
a. Pilih
Tugas
b. Deskripsikan
Tujuan awal dari user
c. Lakukan
kegiatan/ aksi yang tepat
d. Analisa
proses keputusan untuk setiap kegiatan.
E. Heuristic Evaluation
Diusulkan oleh Nielsen
dan Molich, hampir sama dengan Cognitive Walkthrough tetapi sedikit terstruktur
dan sedikit terarah. Pada pendekatan ini, sekumpulan criteria usability atau heuristic diidentifikasi dan perancangan
dilaksanakan misalnya dimana criteria dilanggar. Dalam system ini terdapat
beberapa kriteria :
1. Perilaku
Sistem dapat dipastikan.
2. Perilaku
Sistem konsisten.
3. Feedback
tersedia.
4. Kemampuan
memori user tidak melebihi batas.
5. Dialog
merupakan orientasi tugas.
Tujuan
dari Heuristic Evaluation adalah untuk memperbaiki perancangan secara efektif.
Evaluator melakukan evaluasi melalui kinerja dari serangkaian tugas dengan
perancangan dan dilihat kesesuaiannya dengan kriteria setiap tingkatan. Jika
ada kesalahan terdeteksi maka perancangan dapat ditinjau ulang untuk
memperbaiki masalah ini sebelum tingkat
implementasi.
F. Review Based Evaluation
Evaluasi
antara psikologi eksperimen dengan interaksi manusia dan komputer menghasilkan
hasil-hasil eksperimen yang baik dan pengalaman yang nyata. Beberapa diantaranya
dari domain khusus ke umum, tetapi kebanyakan berhubungan dengan isu generic
dan teraplikasi pada berbagai situasi.
G. Model Based Evaluation
Pendekatan
terakhir untuk mengevaluasi perancangan dengan mengkombinasi spesifikasi
perancangan dan evaluasi ke dalam kerangka kerja yang sama.
Contoh
GOMS model, keystroke level model dan design rationale.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar